Aspal Cair Bau dan Berbahaya? Kenali Perbedaan Asphalt Emulsion dan Cutback Asphalt

Ketika mencari informasi mengenai kelemahan aspal cair, Anda mungkin menemukan keterangan bahwa aspal cair memiliki bau menyengat, menggunakan pelarut minyak bumi, menghasilkan emisi, atau memiliki karakteristik tertentu yang berkaitan dengan bahan pelarut.

Informasi tersebut tidak dapat digeneralisasikan untuk semua jenis material yang masyarakat kenal sebagai “aspal cair”.

Salah satu penyebabnya adalah adanya perbedaan antara Asphalt Emulsion (aspal emulsi) dan Cutback Asphalt.

Keduanya sama-sama dapat berbentuk cair saat diaplikasikan, tetapi komposisi dan karakteristiknya berbeda.

Apa Itu Asphalt Emulsion?

Asphalt Emulsion adalah material yang terdiri dari partikel aspal yang didispersikan di dalam air dengan bantuan sejumlah kecil emulsifying agent atau emulsifier.

Federal Highway Administration (FHWA) menjelaskan bahwa asphalt emulsion dibuat dengan memecah aspal menjadi droplet mikroskopis yang dicampurkan dengan air dan emulsifying agent. Asphalt Institute juga mendefinisikan asphalt emulsion sebagai emulsi asphalt binder dan air dengan sejumlah kecil emulsifying agent.

Dengan demikian, Asphalt Emulsion tidak sama dengan Cutback Asphalt.

Apa Itu Cutback Asphalt?

Cutback Asphalt merupakan asphalt cement yang dibuat cair dengan menggunakan petroleum-based solvent.

Menurut FHWA, pelarut tersebut dapat berupa gasoline/naphtha, kerosene, atau minyak dengan volatilitas rendah, tergantung jenis cutback yang digunakan. Asphalt Institute juga mendefinisikan cutback asphalt sebagai asphalt cement yang dicairkan dengan petroleum solvent atau diluent.

Inilah perbedaan yang sangat penting ketika masyarakat mencari informasi mengenai aspal cair.

Perbedaan Asphalt Emulsion dan Cutback Asphalt

Asphalt EmulsionCutback Asphalt
Menggunakan air sebagai fase cairMenggunakan petroleum solvent/diluent
Mengandung emulsifying agentMengandung pelarut untuk mencairkan asphalt cement
Air menguap setelah proses breaking/curingPelarut menguap setelah aplikasi
Tidak boleh disamakan begitu saja dengan cutbackMemiliki karakteristik yang berkaitan dengan jenis solvent yang digunakan

Karena komposisinya berbeda, karakteristik Cutback Asphalt tidak tepat apabila langsung dianggap sebagai karakteristik semua Asphalt Emulsion.

Apakah Asphalt Emulsion Berbau Menyengat?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan membedakan terlebih dahulu jenis material dan formulasi produknya.

Bau yang berasal dari petroleum solvent pada Cutback Asphalt tidak dapat begitu saja digunakan untuk menjelaskan Asphalt Emulsion, karena Asphalt Emulsion merupakan sistem asphalt, air dan emulsifying agent, sedangkan Cutback Asphalt menggunakan petroleum solvent.

Produk Asphalt Emulsion berbasis air yang digunakan Subur Jaya Aspal untuk pekerjaan waterproofing tidak memiliki karakteristik bau pelarut minyak bumi seperti Cutback Asphalt.

Karena formulasi produk dapat berbeda antarprodusen, karakteristik dan informasi keselamatan produk tertentu tetap sebaiknya mengacu pada spesifikasi dan Safety Data Sheet (SDS) produk tersebut.

Lalu, Apa Keterbatasan Asphalt Emulsion untuk Waterproofing?

Salah satu keterbatasan yang paling mudah terlihat pada penggunaan Asphalt Emulsion untuk waterproofing adalah warna.

Aspal pada dasarnya mempunyai karakteristik warna cokelat tua hingga hitam. Asphalt Institute juga mendefinisikan asphalt sebagai material cementitious berwarna dark brown hingga black.

Karena itu, Asphalt Emulsion bukan material yang menawarkan banyak pilihan warna dekoratif seperti cat atau beberapa jenis coating finishing.

Untuk penggunaan pada dak beton, rooftop, talang, genteng beton, dinding tertentu dan bagian bangunan lainnya, hal ini biasanya perlu dipertimbangkan berdasarkan fungsi serta tampilan akhir yang diinginkan.

Jika prioritas utama adalah lapisan waterproofing, karakteristik warna hitam tersebut merupakan bagian dari karakteristik material yang perlu diketahui konsumen sejak awal.

Mengapa Asphalt Emulsion Digunakan untuk Waterproofing?

Dalam pekerjaan waterproofing, pemilihan material tidak seharusnya hanya berdasarkan warna atau istilah “aspal cair”.

Kondisi permukaan, sumber kebocoran, retakan, porositas beton, kondisi lapisan lama, serta lokasi masuknya air perlu diperiksa terlebih dahulu.

Itulah sebabnya Subur Jaya Aspal melakukan pemeriksaan kondisi area sebelum menentukan metode pengerjaan.

Asphalt Emulsion kemudian dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi bangunan, antara lain pada:

  • dak beton dan rooftop;
  • dinding yang mengalami rembes;
  • talang;
  • genteng beton;
  • bagian bangunan yang membutuhkan perlindungan terhadap masuknya air.

Jangan Samakan Semua “Aspal Cair”

Istilah aspal cair memang umum digunakan masyarakat. Namun secara teknis, kita perlu mengetahui material apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.

Asphalt Emulsion dan Cutback Asphalt bukan material yang sama.

FHWA bahkan menjelaskan keduanya secara terpisah: Asphalt Emulsion menggunakan asphalt, air dan emulsifying agent, sementara Cutback Asphalt dibuat dengan melarutkan asphalt cement menggunakan petroleum-based solvent.

Karena itu, ketika menemukan informasi bahwa “aspal cair menggunakan pelarut minyak bumi”, periksa kembali apakah informasi tersebut sebenarnya sedang membahas Cutback Asphalt atau Asphalt Emulsion.

Kesalahan memahami kedua istilah tersebut dapat menyebabkan konsumen mendapatkan gambaran yang keliru mengenai material yang digunakan untuk pekerjaan waterproofing.

Jasa Waterproofing Asphalt Emulsion

Subur Jaya Aspal melayani pekerjaan waterproofing menggunakan Asphalt Emulsion berbasis air untuk membantu menangani masalah bocor dan rembes pada berbagai bagian bangunan.

Sebelum pengerjaan, kondisi bangunan dapat diperiksa terlebih dahulu agar metode yang digunakan menyesuaikan sumber permasalahan dan kondisi lapangan.

Ingin mengenal atau mencoba langsung produk Asphalt Emulsion?
Produk Aspal Cair Asphalt Emulsion tersedia di Katalog Produk kami.

Ada Bocor, Ingat Subur Jaya Aspal.