Kebocoran atap tidak selalu terjadi karena lapisan waterproofing yang kurang tebal. Dalam beberapa kasus, masalah justru tidak selesai karena sumber masuknya air belum ditemukan dan material yang digunakan tidak sesuai dengan jenis atap.
Hal seperti inilah yang kami temukan saat menangani salah satu rumah di Bondongan, Kota Bogor.
Menurut informasi dari pemilik rumah, kebocoran pada bangunan ini sebelumnya sudah beberapa kali ditangani. Bahkan, lebih dari 20 tukang pernah mencoba memperbaikinya, tetapi ketika hujan datang, masalah kebocoran tetap kembali.

Berbagai Material Sudah Dicoba, Tetapi Bocor Tetap Kembali

Saat tim Subur Jaya Aspal melakukan pemeriksaan, kondisi atap sudah dipenuhi berbagai jenis material dari pekerjaan sebelumnya.
Beberapa material yang ditemukan antara lain SikaTop, No Drop, lakban aluminium, karpet talang, tissue mat, jaring dempul, semen, hingga beberapa jenis cat.
Lapisan yang berbeda-beda tersebut bahkan membuat permukaan atap terlihat seperti terdiri dari berbagai warna.
Masalahnya, semakin banyak material ditambahkan, kebocoran tetap belum terselesaikan.
Ini menjadi salah satu contoh bahwa pada kasus kebocoran, pertanyaan pertama seharusnya bukan hanya:
“Waterproofing apa yang harus ditambahkan?”
Tetapi juga:
“Dari mana sebenarnya air masuk?”
Kasus ini kami temukan saat menangani kebocoran genteng bitumen pada salah satu proyek di Bondongan, Kota Bogor. Temuan lapangan seperti ini menjadi bagian dari pengalaman kami dalam menangani waterproofing di wilayah Bogor.

Sumber Masalah Ternyata Bukan Hanya dari Genteng

Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan salah satu jalur masuk air berada pada bagian dinding ban-banan.
Ketika terjadi hujan yang disertai angin, air dapat masuk melalui bagian tersebut.
Artinya, apabila pemeriksaan hanya berfokus pada permukaan atap dan setiap kebocoran kembali ditutup dengan material baru, sumber masuk air yang sebenarnya tetap tidak tertangani.
Inilah alasan mengapa titik air yang terlihat di dalam bangunan belum tentu menunjukkan lokasi sumber kebocoran secara langsung.
Air dapat masuk dari bagian lain, kemudian bergerak mengikuti celah atau konstruksi bangunan sebelum akhirnya terlihat menetes di dalam rumah.

Pemeriksaan pada proyek di Bondongan, Kota Bogor tidak berhenti di permukaan atap. Tim Subur Jaya Aspal juga melakukan pengecekan dari bagian bawah untuk melihat bagaimana air masuk dan bergerak di dalam konstruksi. Saat area di balik plafon diperiksa, ditemukan adanya
penampungan air yang sebelumnya ditempatkan di atas plafon untuk menampung tetesan kebocoran.

Temuan ini menunjukkan bahwa masalah kebocoran pada bangunan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Namun keberadaan air di atas plafon belum otomatis menunjukkan bahwa sumber masuk air berada tepat di atas titik tersebut.
Karena itu pemeriksaan dilakukan dari dua arah: melihat kondisi atap dan dinding dari luar sekaligus menelusuri jalur air dari bagian dalam bangunan.

Masalah Kedua: Material Tidak Sesuai dengan Genteng Bitumen

Ada satu hal penting lainnya pada proyek ini.
Atap rumah menggunakan genteng bitumen, bukan genteng beton atau genteng biasa.
Genteng jenis ini memiliki karakteristik yang berbeda. Sistem genteng bitumen sendiri berkaitan dengan material berbasis bitumen/aspal.
Namun pada pekerjaan sebelumnya, di atas genteng ditemukan berbagai material seperti semen, coating, karpet, tissue, dan material tambahan lainnya.
Pada kondisi yang kami temukan di lapangan, penumpukan tersebut justru menimbulkan persoalan baru.
Setelah Lapisan Lama Dibongkar, Genteng di Bawahnya Sudah Rapuh
Ketika lapisan-lapisan pekerjaan sebelumnya dibongkar, kondisi genteng bitumen di bawahnya mulai terlihat.
Beberapa bagian telah mengalami kerusakan dan kerapuhan.
Air yang sebelumnya masuk atau meresap dapat tertahan di bawah lapisan tambahan tersebut. Ketika kelembapan terperangkap dan tidak mempunyai jalur yang baik untuk keluar atau mengering, kondisi material di bawahnya dapat semakin memburuk.

Jadi pada proyek ini terdapat dua persoalan yang saling berkaitan:
sumber masuk air belum ditangani dengan tepat, sementara penambahan material yang tidak sesuai justru membuat kondisi atap semakin kompleks untuk diperbaiki.

Waterproofing Bukan Sekadar Menambah Lapisan
Kasus di Bondongan ini menjadi contoh mengapa penanganan kebocoran sebaiknya dimulai dengan pemeriksaan kondisi bangunan.
Menambah lapisan waterproofing belum tentu menyelesaikan masalah apabila air sebenarnya masuk melalui dinding, sambungan, detail atap, atau bagian bangunan lainnya.
Begitu pula dengan pemilihan material.
Material yang dapat digunakan pada satu jenis permukaan belum tentu tepat diterapkan dengan cara yang sama pada genteng bitumen.
Karena itu, sebelum menentukan metode pekerjaan, perlu dilihat terlebih dahulu:
jenis material atap, kondisi lapisan lama, jalur masuk air, bagian detail yang bermasalah, serta kerusakan yang sudah terjadi akibat pekerjaan sebelumnya.
Penanganan Kebocoran Genteng Bitumen di Bondongan, Kota Bogor
Pada pekerjaan ini, fokus Subur Jaya Aspal bukan sekadar menambahkan lapisan baru di atas pekerjaan lama.
Lapisan yang mengganggu pemeriksaan perlu dibuka terlebih dahulu agar kondisi sebenarnya dapat terlihat. Setelah sumber masalah dan kondisi genteng diketahui, barulah metode penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Kasus ini juga menunjukkan satu hal sederhana:
Air menetes di satu titik bukan berarti sumber bocornya pasti tepat di atas titik tersebut.

Menemukan jalur masuk air dapat menjadi bagian yang jauh lebih penting daripada sekadar menambah material waterproofing.
Mengalami masalah kebocoran serupa di Bogor?
Subur Jaya Aspal menangani pemeriksaan dan pekerjaan waterproofing untuk dak beton, dinding rembes, atap, serta genteng bitumen berdasarkan kondisi bangunan dan sumber masalah yang ditemukan di lapangan.
Untuk informasi layanan dan proyek di wilayah Bogor, lihat halaman Jasa Waterproofing Bogor.